17 Agustus 2010

ADAM

Allah mengumpulkan lempung tanah yang keras, lembut, manis dan asam, yang dicelupkannya kedalam air dan mengadoninya dengan uap lembab sampai menjadi rekat. Darinya ia membuat patung dengan lekukan-lekukan, persendian, anggota dan bagian-bagian. Ia memadukannya sampai ia mengering untuk waktu tertentu dan jangka waktu yang diketahui. Kemudian ia meniupkan ke dalamnya Ruh-Nya sehingga ia mengambil pola manusia dengan pikiran yang mengaturnya, kecerdasan yang digunakannya, anggota badan yang melayaninya, organ-organ yang mengubah posisinya, kebijaksanaan yang membedakan antara yang benar dan salah, rasa dan bau, warna dan jenis. Ia adalah suatu campuran antara lempung berbagai warna, bahan-bahan rekat, yang berlawanan, yang beraneka ragam, dan sifat-sifat yang berbeda seperti panas, dingin, lembut dan keras.

Kemudian Allah menyuruh pada malaikat untuk memenuhi janji-Nya dengan mereka dan memenuhi janji menaati perintah-Nya kepada mereka dengan dengan pengakuan kepadanya melalui sujud kepada-Nya dan tunduk kepada kedudukannya yang mulia. Maka Allah berfirman:"Tunduklah kamu kepada Adam! Maka merekapun tunduk kecuali iblis." (QS. 2:34; 17:61; 18:50; 20:116). Kesombongan mencegah dia dan keburukan mengalahkannya. Maka ia membangga-banggakan penciptaannya sendiri dari api dan bersikap menghina ciptaan dari lempung. Maka Allah memberikan waktu kepadanya agar ia sepenuhnya patut menerima kemurkaan-Nya, dan melengkapi ujian pada manusia untuk memenuhi janjinya (yang telah diberikan-Nya pada iblis). Maka Ia berkata: "Sesungguhnya engkau telah diberi waktu sampai pada hari yang diketahui." (QS 15:37; 38:81). Setelah itu Allah menempatkan Adam di suatu rumah dimana Ia membuat kehidupannya senang dan kediamannya aman, dan Ia memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap iblis dan musuhnya. Lalu iblis merasa iri atas tinggalnya di sorga dan hubungan-hubungannya dengan yang bajik. Maka iapun mengubah keyakinannya menjadi goyah, dan tekadnya menjadi lemah. Dengan demikian ia mengubah kebahagiaan Adam menjadi ketakutan, martabatnya menjadi sesal dan malu. Kemudian Allah memberikan kepada Adam kesempatan untuk bertaubat, mengajarkan kepadanya kata-kata dari Rahmat-Nya, menjanjikan kepadanya untuk kembali ke surga-Nya, dan mengirimkannya ketempat percobaan dan perkembangbiakan keturunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


website counters

Silahkan masukkan alamat email anda untuk berlangganan artikel blog ini